Arab Saudi mengumumkan proyek kota pintar baru dalam program Vision 2030

Ketika Arab Saudi kembali mengumumkan proyek kota futuristik dalam kerangka Vision 2030, perhatian publik global langsung tertuju pada satu kata kunci: smart city. Di tengah tekanan transisi energi, kompetisi pusat logistik, dan tuntutan kualitas hidup urban, kerajaan ini tidak lagi sekadar berbicara tentang gedung tinggi atau boulevard megah. Yang dipertaruhkan adalah model baru tata kota: kota pintar yang beroperasi lewat data, mengandalkan energi bersih, dan mengubah cara warga bekerja, belajar, berobat, hingga berwisata. NEOM—kawasan raksasa di barat laut yang luasnya sekitar 26.500 km²—menjadi panggung utama. Anggaran yang disebut menembus 500 miliar dolar AS bukan hanya angka sensasional; ia adalah sinyal bahwa pembangunan kini diposisikan sebagai investasi untuk ekonomi masa depan, bukan biaya jangka pendek.

Di lapangan, gambaran itu diterjemahkan menjadi jaringan transportasi cepat tanpa kendaraan berbahan bakar fosil, kawasan industri terapung, destinasi pegunungan yang menantang iklim gurun, serta layanan publik yang ditopang AI dan IoT. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun bagi pelaku usaha, akademisi, dan perencana kota, pengumuman ini terasa lebih konkret: sebuah “laboratorium hidup” yang menguji transformasi digital pada skala metropolitan. Dan di balik narasi besar, ada pertanyaan yang lebih dekat ke keseharian: bagaimana rasanya tinggal di kota yang nyaris seluruh kebutuhannya diprediksi algoritma—dan apakah infrastruktur cerdas benar-benar mampu membuat hidup lebih sederhana?

Arab Saudi dan proyek kota pintar Vision 2030: dari ketergantungan minyak ke ekonomi masa depan

Program Vision 2030 lahir dari kebutuhan strategis: mengurangi ketergantungan pada minyak dan memperkuat sumber pertumbuhan baru. Dalam konteks itu, pengumuman proyek kota pintar bukan sekadar berita properti, melainkan kebijakan ekonomi yang menargetkan perubahan struktur industri, pasar kerja, hingga reputasi global. NEOM ditempatkan sebagai simbol transformasi, karena ia merangkum beberapa agenda sekaligus: energi terbarukan, pariwisata berkelas, manufaktur canggih, dan layanan digital yang bisa diekspor sebagai model.

Ambil contoh sederhana: sebuah kota konvensional tumbuh mengikuti pola “jalan dulu, rumah kemudian, kantor menyusul”. Kota baru yang dirancang sejak awal memiliki kesempatan membalik urutan itu: menentukan standar data, menata jaringan energi, mengatur tata guna lahan, lalu membiarkan aktivitas ekonomi menempel pada kerangka yang sudah siap. Itulah mengapa NEOM sering dipahami sebagai “platform”—bukan hanya tempat tinggal. Platform ini diharapkan memunculkan ekosistem startup, pusat riset, dan kantor regional perusahaan global yang mengejar efisiensi dan konektivitas.

Untuk memanusiakan gagasan ini, bayangkan seorang tokoh fiktif bernama Rania, analis rantai pasok yang pindah dari Jeddah ke wilayah NEOM karena pekerjaannya di perusahaan logistik. Keputusan Rania bukan semata soal gaji. Ia mempertimbangkan waktu tempuh, kualitas udara, akses pendidikan anak, dan layanan kesehatan. Dalam kota dengan infrastruktur cerdas, komponen-komponen itu dijanjikan hadir sebagai layanan terpadu: jadwal transportasi yang konsisten, pengelolaan energi yang efisien, hingga fasilitas publik yang dirancang berbasis perilaku warga. Pertanyaannya: apakah ini realistis? Di banyak kota dunia, transformasi digital sering tersendat karena jaringan lama, birokrasi, dan kepentingan yang saling tarik-menarik. Di NEOM, tantangannya berbeda: membangun dari nol menuntut koordinasi ekstrem, tetapi memberi ruang untuk standardisasi sejak awal.

Dimensi lain yang kerap dilupakan adalah diplomasi ekonomi. Ketika sebuah negara membangun kota pintar berskala besar, ia sekaligus mengundang vendor teknologi, investor infrastruktur, konsultan urban, hingga universitas. Rantai nilai itu menciptakan peluang besar—dan kompetisi ketat—yang pada akhirnya memperkuat posisi Arab Saudi dalam peta inovasi. Tidak mengherankan jika diskusi tentang AI, komputasi awan, dan analitik data makin sering muncul dalam narasi pembangunan. Perkembangan tersebut sejalan dengan tren global pemanfaatan AI di layanan awan dan analisis industri, yang dapat dipahami lebih jauh melalui ulasan seperti analisis penerapan AI di ekosistem komputasi awan.

Namun, narasi besar akan diuji oleh indikator kecil: apakah biaya hidup terjangkau, apakah lingkungan terlindungi, apakah talenta lokal mendapatkan peran, dan apakah kota itu nyaman bagi keluarga. Di sinilah ukuran keberhasilan kota pintar bergeser dari “jumlah sensor” menjadi “mutu pengalaman manusia”. Dan isu pengalaman manusia ini menjadi jembatan ke pembahasan berikutnya: bagaimana rancangan fisik NEOM—terutama The Line—mencoba menulis ulang kamus perkotaan.

arab saudi mengumumkan proyek kota pintar baru sebagai bagian dari program vision 2030 untuk mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan.

NEOM sebagai smart city raksasa: infrastruktur cerdas, AI, dan transformasi digital layanan publik

NEOM dirancang sebagai kawasan metropolitan supermodern seluas sekitar 26.500 km², membentang dari pegunungan hingga garis pantai Laut Merah, termasuk area gurun. Skala ini penting karena memungkinkan pendekatan “kota sebagai sistem”: energi, air, mobilitas, keamanan, kesehatan, dan pendidikan tidak berdiri sendiri, melainkan diorkestrasi oleh data. Dalam kerangka smart city, data bukan sekadar laporan; ia menjadi bahan bakar pengambilan keputusan harian.

Pilar utamanya adalah integrasi teknologi seperti AI dan Internet of Things. Sensor pada bangunan memantau konsumsi listrik dan kebutuhan pendinginan, jaringan utilitas mengurangi kebocoran air, dan sistem manajemen kota memprediksi lonjakan permintaan transportasi saat acara besar. Dalam bayangan pengembang, banyak layanan publik diatur oleh kecerdasan buatan: dari pengaturan lampu jalan hingga respons darurat. Ini mengurangi pemborosan dan membuat layanan lebih presisi—setidaknya secara teori.

Kisah Rania bisa dilanjutkan di sini. Di pagi hari, ia menerima notifikasi bahwa rute komuternya dioptimalkan karena ada kepadatan di satu titik. Bukan karena kemacetan mobil—konsepnya memang mengurangi kendaraan pribadi berbahan bakar fosil—melainkan karena arus penumpang pada jam tertentu. Sistem memindahkan kapasitas kereta cepat dan memperbarui jadwal. Ketika ia memesan konsultasi medis untuk anaknya, triase awal dilakukan lewat aplikasi, lalu sistem mengarahkan ke klinik dengan waktu tunggu terpendek. Pada sisi warga, semua terasa seperti layanan “mengalir”. Pada sisi kota, semua itu adalah orkestrasi data.

Transformasi seperti ini memerlukan pondasi digital yang kuat. Selain jaringan komunikasi berkecepatan tinggi, kota pintar memerlukan tata kelola data: siapa yang boleh mengakses, bagaimana privasi dijaga, dan bagaimana keamanan siber ditingkatkan. Di sinilah pelajaran dari ekosistem global relevan. Perangkat konsumen saja kini semakin dipenuhi fitur AI untuk mempersonalisasi pengalaman; tren ini dibahas misalnya dalam perkembangan fitur kecerdasan buatan pada perangkat mobile. Jika ponsel pribadi sudah mengandalkan AI untuk produktivitas, kota pun—dengan skala lebih besar—akan menghadapi kebutuhan yang sama, tetapi risikonya berlipat.

NEOM juga menonjolkan ambisi kota rendah emisi, dengan energi dari sumber terbarukan seperti surya dan angin. Namun aspek keberlanjutan bukan hanya soal pembangkit. Infrastruktur cerdas memungkinkan “penghematan tak terlihat”: gedung yang menyesuaikan pendinginan berdasarkan okupansi, jaringan listrik yang menyeimbangkan beban, dan perencanaan kota yang mengurangi kebutuhan perjalanan jauh. Pada tataran kebijakan, hal ini selaras dengan tren dunia yang mendorong efisiensi energi rumah tangga dan subsidi terarah, sebagaimana dapat dibandingkan lewat contoh kebijakan di negara lain seperti subsidi energi rumah untuk menekan biaya dan emisi. NEOM tentu bukan duplikasi kebijakan negara lain, tetapi logikanya mirip: menekan konsumsi lewat kombinasi teknologi dan insentif.

Di balik itu, selalu ada sisi yang jarang dibahas: ketergantungan pada vendor, interoperabilitas sistem, dan risiko “lock-in” teknologi. Kota yang seluruh layanannya digital harus memastikan standar terbuka, rencana cadangan saat sistem down, dan kemampuan audit algoritma. Jika tidak, kota bisa menjadi sangat efisien—namun rapuh. Insight kuncinya: transformasi digital kota tidak boleh hanya mengejar kecanggihan, tetapi juga ketahanan.

Di atas fondasi sistem kota itulah, NEOM memperkenalkan bentuk paling radikal: The Line. Dan di sana, perdebatan urbanisme menjadi jauh lebih seru karena menyentuh sesuatu yang sangat dasar—cara kita bergerak dan menggunakan ruang.

The Line: kota linear 170 km tanpa mobil, eksperimen pembangunan urban paling berani

The Line dirancang sebagai kota linear sepanjang 170 km, menjadi pusat kehidupan utama NEOM. Konsepnya menantang kebiasaan urban selama lebih dari satu abad: tidak ada jalan raya seperti kota modern, tidak mengandalkan kendaraan berbahan bakar fosil, dan memaksimalkan akses pejalan kaki. Dalam narasi resminya, banyak kebutuhan harian dirancang berada dekat, sehingga akses ke layanan utama bisa dicapai dengan berjalan kaki dalam hitungan menit. Mobilitas jarak jauh mengandalkan transportasi publik berkecepatan tinggi, dengan target perjalanan dari ujung ke ujung hanya sekitar 20 menit.

Di kota konvensional, jarak sering menjadi hukuman: rumah jauh dari kantor, sekolah jauh dari klinik, belanja jauh dari taman. The Line mencoba menukar “kota melebar” dengan “kota memanjang”, sekaligus menumpuk fungsi dalam struktur vertikal. Dampaknya bukan hanya pada desain arsitektur, tetapi pada perilaku ekonomi. Jika pergerakan harian lebih ringkas, produktivitas meningkat, biaya transportasi turun, dan ruang dapat dialokasikan untuk fasilitas publik serta ruang hijau.

Rania, dalam skenario ini, tidak lagi menghitung waktu tempuh dengan “berapa kilometer”, melainkan “berapa lapis layanan yang harus dilalui”. Ia tinggal di unit hunian yang terhubung dengan sekolah, klinik, area kerja bersama, dan pusat belanja kecil. Ketika ada rapat di fasilitas riset di titik lain, ia turun ke koridor transportasi cepat. Model ini berpotensi mengubah cara perusahaan memilih lokasi kantor. Alih-alih mengejar pusat bisnis tradisional, mereka bisa menyebar dalam modul-modul, karena konektivitas dijamin oleh sistem transportasi.

Namun eksperimen sebesar ini selalu memunculkan pertanyaan kritis. Bagaimana aliran logistik barang harian—makanan, paket, peralatan—tanpa jaringan jalan konvensional? Jawabannya biasanya terletak pada sistem logistik bawah tanah atau koridor servis khusus yang tidak bercampur dengan jalur warga. Ini menarik jika dikaitkan dengan ledakan e-commerce Asia yang menuntut pengiriman cepat dan presisi. Pembelajaran regional tentang jaringan distribusi bisa dilihat dari dinamika pelaku e-commerce besar, misalnya melalui ulasan perkembangan e-commerce Asia dan tantangan logistiknya. The Line pada dasarnya memaksa logistik menjadi lebih “terencana”, karena ruang servis dan ruang manusia harus dipisahkan tegas.

Aspek sosial juga penting. Kota yang dirancang sangat efisien dapat terasa “teratur”, tetapi manusia tetap membutuhkan kejutan kecil: sudut jalan yang ramai, pasar yang tumbuh organik, ruang spontan untuk komunitas. Tantangan perancang The Line adalah menciptakan spontanitas dalam struktur yang terprogram. Solusi yang sering dibahas di dunia perancangan adalah “zona fleksibel”: ruang yang bisa menjadi galeri, pasar akhir pekan, atau arena komunitas tanpa perlu renovasi besar. Di sinilah data dapat membantu, misalnya membaca pola keramaian dan mengubah fungsi ruang secara dinamis.

Ada pula isu psikologis: apakah hidup dalam koridor linear terasa membatasi? Sebagian orang menyukai orientasi jelas dan akses cepat, sementara yang lain membutuhkan rasa “menjelajah”. Karena itu, kualitas pengalaman ruang publik—taman, area bermain, jalur pejalan kaki yang teduh—menjadi sama pentingnya dengan teknologi AI yang mengatur sistem. Pelajaran dari banyak kota pintar adalah sederhana: jika ruang publik membosankan, aplikasi terbaik pun tidak cukup menyelamatkan pengalaman.

Gagasan The Line juga memaksa pemerintah dan pengembang mendefinisikan ulang indikator keberhasilan pembangunan. Bukan hanya jumlah unit, tetapi juga kesehatan warga, pengurangan emisi, keselamatan, dan kepuasan hidup. Insight akhirnya: The Line bukan sekadar desain—ia adalah ujian apakah urbanisme dapat “di-reset” untuk mengejar ekonomi masa depan sekaligus kesejahteraan.

Jika The Line adalah eksperimen hunian dan mobilitas, maka NEOM juga menyiapkan mesin ekonominya lewat kawasan industri dan destinasi khusus seperti Oxagon dan Trojena. Di titik ini, kota pintar bertemu strategi bisnis.

Oxagon dan Trojena: teknologi, industri terapung, pariwisata, dan rantai nilai ekonomi masa depan

Selain The Line, NEOM mencakup dua elemen yang dirancang untuk menggerakkan ekonomi masa depan: Oxagon dan Trojena. Keduanya memperlihatkan bahwa konsep kota pintar tidak berhenti pada hunian, tetapi mencakup produksi, distribusi, dan pengalaman wisata. Dengan kata lain, NEOM ingin menghubungkan “tempat tinggal” dengan “tempat mencipta nilai”.

Oxagon digambarkan sebagai kawasan industri terapung dan pusat logistik canggih. Ide utamanya adalah menciptakan node manufaktur dan distribusi yang terintegrasi dengan jalur perdagangan, memanfaatkan otomasi, robotika, dan analitik untuk mempercepat perputaran barang. Dalam praktiknya, kawasan seperti ini biasanya menarik industri bernilai tambah: perakitan komponen presisi, pengolahan material canggih, hingga fasilitas R&D untuk energi bersih. Dengan infrastruktur cerdas, pabrik dapat memonitor konsumsi energi per lini produksi, memprediksi perawatan mesin, dan menekan downtime. Hal-hal yang dulu dianggap “urusan internal pabrik” kini menjadi bagian dari sistem kota.

Bagi Rania, Oxagon bukan sekadar tempat kerja; ia adalah ekosistem karier. Ia bisa pindah dari perusahaan logistik ke perusahaan teknologi gudang, atau ke startup yang membuat perangkat lunak optimasi pengiriman. Mobilitas karier seperti ini adalah ciri ekonomi baru: tenaga kerja tidak hanya pindah kantor, tetapi pindah peran, karena transformasi digital membuka profesi baru. Bahkan perdagangan energi ikut berubah; negara-negara yang mengekspor teknologi listrik dan jaringan cerdas memperoleh pangsa baru. Gambaran dinamika ekspor dan industri listrik dapat dibandingkan dengan contoh di kawasan lain melalui tren ekspor sektor listrik dan teknologi terkait, yang menunjukkan bagaimana energi dan manufaktur semakin menyatu.

Berbeda dari Oxagon yang industrial, Trojena diposisikan sebagai kawasan pegunungan dengan pengalaman wisata dan olahraga musim dingin. Ini terdengar paradoks di negara gurun, tetapi justru di situlah nilai strategisnya: diversifikasi pariwisata. Dengan fasilitas yang dirancang untuk menarik wisatawan sepanjang tahun, Trojena dapat menjadi sumber pendapatan non-migas, sekaligus memperluas citra Arab Saudi sebagai destinasi global. Pada level kota, pariwisata berkualitas tinggi membutuhkan lebih dari hotel mewah; ia menuntut manajemen keramaian, pengelolaan air, pengendalian limbah, dan keamanan—semua area yang diuntungkan oleh sistem kota pintar.

Karena itu, keberhasilan Trojena bisa diukur lewat hal-hal yang tampak remeh: antrian lift yang tidak mengular, jalur pejalan kaki yang aman, informasi cuaca mikro yang akurat, dan layanan darurat yang responsif. Teknologi menjadi “pelayan” yang tak terlihat. Di titik ini, konsep smart city terasa paling nyata: bukan pada layar besar di command center, melainkan pada pengalaman wisatawan yang terasa mulus.

Untuk memperjelas hubungan Oxagon dan Trojena dengan ekosistem NEOM, berikut daftar peran yang saling menguatkan:

  • Oxagon memperkuat basis industri dan logistik, menarik investasi dan talenta teknik.
  • The Line menyediakan pola hidup urban baru yang efisien untuk pekerja dan keluarga.
  • Trojena mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif, membuka lapangan kerja layanan dan event.
  • Integrasi AI/IoT memungkinkan efisiensi lintas sektor: energi, mobilitas, keamanan, dan layanan publik.
  • Komitmen energi terbarukan membentuk identitas kota rendah emisi dan memperkuat daya tarik investor.

Kuncinya adalah orkestrasi. Jika satu elemen berjalan sendiri-sendiri, NEOM hanya menjadi kumpulan proyek. Jika terintegrasi, ia menjadi mesin pertumbuhan yang memadukan industri, pariwisata, dan inovasi. Insight penutup bagian ini: NEOM mencoba membuktikan bahwa pembangunan kota dapat sekaligus menjadi strategi ekspor—mengekspor produk, layanan, dan bahkan model tata kelola.

arab saudi mengumumkan proyek kota pintar baru sebagai bagian dari program vision 2030 untuk meningkatkan teknologi dan kualitas hidup.

Keberlanjutan dan dampak sosial: kota tanpa emisi, perlindungan biodiversitas, dan kualitas hidup dalam kota pintar

Ambisi NEOM untuk menjadi kota rendah emisi—bahkan sering diposisikan sebagai kota tanpa emisi operasional—mendorong diskusi serius tentang keberlanjutan. Energi terbarukan seperti surya dan angin disebut sebagai tulang punggung pasokan listrik, tetapi keberlanjutan kota tidak berhenti di pembangkit. Yang menentukan adalah bagaimana sistem itu menembus rutinitas: cara bangunan dirancang, bagaimana air dikelola, bagaimana limbah diproses, dan bagaimana ruang hidup diciptakan agar warga betah tanpa mengorbankan alam sekitar.

Dalam kota yang dibangun di wilayah dengan ekosistem gurun dan pesisir, pelestarian biodiversitas bukan bonus, melainkan syarat sosial-politik dan ekonomi. Kerusakan ekosistem pesisir dapat mengganggu pariwisata, perikanan, dan kualitas lingkungan. Karena itu, komitmen pemulihan ekosistem laut dan darat menjadi bagian dari narasi NEOM. Implementasinya bisa berupa pembatasan zona pembangunan, koridor satwa, pemantauan kualitas air laut, hingga restorasi habitat. Dengan infrastruktur cerdas, pemantauan ini bisa lebih presisi: sensor kualitas air, citra satelit untuk memantau vegetasi, dan model prediktif untuk mengantisipasi dampak konstruksi.

Di tingkat warga, keberlanjutan harus terasa sebagai kualitas hidup. Rania, misalnya, merasakan perbedaan ketika ruang hijau tidak hanya “hiasan”, tetapi benar-benar mengurangi panas, memperbaiki kualitas udara lokal, dan menjadi ruang interaksi sosial. Kota pintar yang baik tidak membuat warganya terus menatap aplikasi; ia membuat warga ingin keluar rumah karena trotoar nyaman, teduh, dan aman. Ruang publik juga berperan dalam kesehatan mental. Dalam banyak kota modern, stres lahir dari kombinasi kebisingan, waktu tempuh panjang, dan minimnya ruang bernapas. The Line dan rancangan NEOM mencoba memangkas setidaknya dua di antaranya: waktu tempuh dan polusi kendaraan.

Namun ada sisi lain dari keberlanjutan: keadilan akses. Apakah layanan pendidikan modern, layanan kesehatan berteknologi tinggi, dan hunian berkualitas dapat diakses luas atau hanya kelompok tertentu? Kota pintar sering menghadapi risiko “kesenjangan digital”, ketika akses internet, literasi teknologi, atau biaya layanan membuat sebagian warga tertinggal. Karena itu, program literasi digital dan desain layanan yang inklusif menjadi penentu. Transformasi digital yang berhasil adalah yang memudahkan kelompok lansia, pekerja informal, dan keluarga muda—bukan hanya profesional teknologi.

Isu privasi dan etika data juga masuk ke ranah sosial. Jika setiap bangunan dan layanan terkoneksi, maka data pergerakan dan kebiasaan warga berpotensi terekam. Tata kelola harus jelas: batas pengumpulan data, enkripsi, anonimisasi, serta mekanisme pengawasan independen. Tanpa itu, kenyamanan bisa berubah menjadi rasa diawasi. Kota masa depan yang matang akan menempatkan kepercayaan publik sebagai infrastruktur tak kasat mata yang sama pentingnya dengan jaringan listrik.

Keberlanjutan juga menyentuh sisi ekonomi rumah tangga. Kota yang efisien energi dapat menurunkan biaya utilitas, asalkan desain tarif dan insentifnya masuk akal. Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa kombinasi perangkat hemat energi, bangunan efisien, dan kebijakan harga yang tepat dapat mempercepat adopsi. Di NEOM, tantangannya adalah menyelaraskan standar bangunan, perilaku konsumsi, dan pasokan energi terbarukan yang fluktuatif. Sistem penyimpanan energi dan manajemen permintaan akan menjadi kunci agar layanan tetap stabil.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya “kota ini canggih”, melainkan “kota ini layak dihuni”. Jika NEOM mampu menyeimbangkan keberlanjutan lingkungan, kualitas hidup, dan pertumbuhan ekonomi, ia akan menjadi referensi global untuk smart city generasi berikutnya. Insight terakhir: masa depan kota bukan ditentukan oleh seberapa banyak sensor dipasang, tetapi oleh seberapa bijak kota itu memperlakukan manusia dan alam sebagai satu kesatuan.

Berita terbaru

Berita terbaru

selandia baru melonggarkan kebijakan visa untuk memudahkan masuknya pekerja asing terampil, mendukung pertumbuhan ekonomi dan inovasi.
Selandia Baru melonggarkan kebijakan visa untuk menarik pekerja asing terampil
zoom memperkenalkan fitur ai terbaru yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas rapat virtual, memudahkan kolaborasi, dan mengoptimalkan pengalaman pengguna.
Zoom memperkenalkan fitur AI baru untuk meningkatkan produktivitas rapat virtual
dhl meningkatkan kapasitas logistik di asia tenggara guna mendukung pertumbuhan pesat e-commerce regional, memastikan pengiriman cepat dan efisien.
DHL meningkatkan kapasitas logistik Asia Tenggara untuk mendukung pertumbuhan e-commerce regional
anggaran pembangunan infrastruktur indonesia meningkat signifikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan memperkuat konektivitas di seluruh nusantara.
Anggaran pembangunan infrastruktur Indonesia meningkat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
kementerian energi memastikan pasokan bahan bakar tetap stabil di wilayah jawa dan bali untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat dan industri.
Kementerian Energi pastikan stabilitas pasokan bahan bakar di wilayah Jawa dan Bali
pemerintah india dan uni eropa terus melanjutkan negosiasi untuk mencapai perjanjian perdagangan bebas yang akan memperkuat hubungan ekonomi dan membuka peluang bisnis antara kedua wilayah.
Pemerintah India dan Uni Eropa melanjutkan negosiasi perjanjian perdagangan bebas