Pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan mencapai USD 813,8 miliar pada 2034 menurut laporan terbaru

Pasar e-commerce di Indonesia memasuki fase yang semakin matang: persaingan makin ketat, konsumen makin menuntut, dan regulator makin serius menata. Namun justru di tengah dinamika itu, laporan terbaru memberi sinyal besar bahwa permainan belum selesai—bahkan bisa memasuki babak yang jauh lebih masif. Dalam berbagai forum industri, proyeksi jangka panjang kini menjadi kompas: bagaimana perusahaan menyiapkan teknologi, logistik, pembayaran, hingga SDM agar sanggup mengelola gelombang permintaan yang terus berubah. Angka yang paling sering dikutip dalam percakapan strategis belakangan adalah proyeksi nilai pasar yang dapat menembus USD 813,8 miliar pada 2034.

Untuk memahami maknanya, bayangkan perjalanan “Mira”, pemilik merek minuman fungsional rumahan di Bandung. Pada 2022 ia mengandalkan marketplace untuk uji pasar; 2024 ia mulai memecah kanal penjualan ke live commerce; 2026 ia dipaksa merapikan pembukuan karena pajak dan audit platform; lalu perlahan ia membangun gudang kecil untuk mempercepat pemenuhan pesanan. Kisah Mira menggambarkan inti transformasi: pertumbuhan bukan sekadar angka transaksi, melainkan hasil dari digitalisasi proses ujung ke ujung—dari pemasaran sampai layanan purnajual. Di bagian-bagian berikut, kita membedah bagaimana proyeksi besar itu bisa terjadi, apa pendorongnya, apa risikonya, dan apa yang perlu dipersiapkan pelaku pasar hari ini.

Proyeksi pasar e-commerce Indonesia menuju USD 813,8 miliar pada 2034: makna di balik angka

Ketika sebuah laporan terbaru menyebut pasar e-commerce Indonesia berpotensi mencapai USD 813,8 miliar pada 2034, banyak orang tergoda memaknainya sebagai “pasar makin besar, tinggal jualan lebih banyak”. Padahal, angka proyeksi seperti ini biasanya merangkum beberapa asumsi yang saling terkait: kenaikan pengguna internet, meningkatnya kepercayaan konsumen, perbaikan sistem pembayaran, makin rapinya logistik, dan—yang sering dilupakan—pergeseran kategori belanja yang tadinya offline menjadi belanja online.

Nilai pasar yang melonjak hingga ratusan miliar dolar tidak berarti semua pemain otomatis diuntungkan. Dalam praktik, kue membesar sering diikuti konsolidasi: pemain besar makin efisien, pemain menengah harus menemukan ceruk, dan brand kecil perlu memaksimalkan diferensiasi produk serta komunitas. Mira, misalnya, awalnya mengandalkan diskon untuk mengejar volume. Saat biaya iklan naik dan kompetisi kata kunci makin mahal, ia mengganti pendekatan: konten edukasi, testimoni, dan paket bundling yang lebih masuk akal. Di situlah terlihat bahwa pertumbuhan jangka panjang lebih banyak ditentukan oleh desain model bisnis daripada sekadar promo.

Makna lain dari proyeksi tersebut adalah “kedalaman transaksi” akan berubah. Pada awal gelombang e-commerce, transaksi didominasi kategori cepat seperti fesyen murah, aksesoris ponsel, dan kebutuhan harian tertentu. Kini, porsi kategori bernilai lebih tinggi—elektronik, peralatan rumah tangga, produk kesehatan, bahkan layanan—semakin relevan. Ini sejalan dengan pergeseran kepercayaan: semakin banyak konsumen berani membeli barang mahal tanpa menyentuh produk dulu, karena layanan retur membaik dan reputasi penjual lebih terukur.

Konteks 2026: dari pemulihan pascapandemi ke ekonomi digital yang menuntut disiplin

Dalam konteks 2026, ekosistem digital Indonesia sudah jauh dari masa “liar dan serba coba-coba”. Platform makin selektif, biaya akuisisi pengguna tidak semurah dulu, dan pihak berwenang makin menaruh perhatian pada kepatuhan. Di sisi lain, dukungan infrastruktur juga meningkat: adopsi QR pembayaran, program perluasan jaringan, dan integrasi data yang lebih baik membuat transaksi lebih lancar di banyak kota lapis dua dan tiga.

Yang menarik, percepatan digitalisasi tidak selalu berjalan mulus. Ada friksi ketika usaha kecil harus menyesuaikan pencatatan penjualan, memahami biaya layanan platform, hingga mengelola pengiriman dengan SLA yang lebih ketat. Tetapi friksi ini justru memaksa profesionalisasi. Dari sudut pandang proyeksi 2034, disiplin operasional seperti ini adalah fondasi yang membuat angka besar menjadi realistis.

Rantai nilai baru: platform bukan sekadar “tempat jualan”

Dulu marketplace cukup menyediakan etalase dan metode pembayaran. Kini, platform bergerak sebagai penyedia ekosistem: iklan berbasis data, pembiayaan untuk penjual, gudang terpadu, hingga dukungan ekspor. Bahkan tren lintas negara membuat sebagian brand Indonesia memikirkan pasar Asia Tenggara lebih dini. Pergerakan ini terlihat pada ekspansi entitas bisnis ke luar negeri oleh beberapa perusahaan digital Indonesia pada periode sebelumnya, menandakan bahwa kompetisi tidak lagi sepenuhnya domestik.

Di tahap inilah teknologi menjadi pembeda. Bukan hanya aplikasi yang cepat, tetapi juga kemampuan mengolah data permintaan, memprediksi stok, dan mencegah penipuan. Proyeksi USD 813,8 miliar pada 2034, pada akhirnya, adalah cerita tentang efisiensi skala: siapa yang mampu mengelola jutaan transaksi harian dengan biaya unit yang makin rendah, dialah yang memimpin. Kalimat kuncinya: pasar akan membesar, tetapi hanya pemain yang matang yang akan menikmati marjin yang sehat.

pasar e-commerce indonesia diperkirakan akan mencapai usd 813,8 miliar pada tahun 2034 menurut laporan terbaru, menunjukkan pertumbuhan pesat dan peluang besar di sektor digital.

Pendorong pertumbuhan: digitalisasi, perilaku belanja online, dan evolusi teknologi ritel

Mesin utama pertumbuhan e-commerce bukan semata jumlah pengguna internet, melainkan perubahan kebiasaan yang berulang setiap minggu: orang membuka aplikasi untuk membandingkan harga, membaca ulasan, menonton live shopping, lalu membayar tanpa kasir. Perubahan kecil yang berulang inilah yang menumpuk menjadi angka besar. Di Indonesia, pendorongnya semakin beragam: urbanisasi, mobilitas pekerja, meningkatnya kelas menengah, dan penetrasi layanan keuangan digital yang mengurangi hambatan pembayaran.

Ambil contoh sederhana dari rutinitas Mira. Ia melihat pola “gajian—checkout” pada akhir bulan, lalu lonjakan kecil setiap kali ada kampanye tematik. Namun pada 2026, pola belanja juga dipengaruhi konten: video pendek yang memicu pembelian impulsif, atau review panjang yang mendorong pembelian terencana. Ini membuat strategi penjual berubah: bukan hanya “barang bagus”, tapi “cerita produk” dan “pembuktian manfaat” menjadi bagian dari konversi.

Perubahan kanal: dari marketplace ke omnichannel yang lebih cair

Di beberapa tahun terakhir, banyak brand Indonesia menggabungkan marketplace, social commerce, dan toko online sendiri. Tujuannya bukan gaya-gayaan, melainkan menyeimbangkan ketergantungan. Marketplace kuat untuk traffic, tetapi biaya komisi dan iklan bisa menekan marjin. Toko sendiri memberi kontrol data pelanggan, tetapi butuh investasi pemasaran. Social commerce mempercepat awareness, tetapi memerlukan kesiapan operasional karena penjualan bisa meledak dalam hitungan jam.

Perubahan ini juga terlihat dari cara pemain besar merapikan strategi digitalnya. Pembahasan tentang pendekatan ekosistem dan sinergi kanal dapat dilihat dalam ulasan seperti strategi digital Blibli di e-commerce, yang menekankan pentingnya pengalaman pelanggan, integrasi layanan, dan efisiensi proses. Bagi UMKM, pelajarannya jelas: jangan hanya mengejar “ramai”, tapi siapkan proses pemenuhan pesanan agar rating tidak jatuh.

Logistik sebagai faktor pembeda: cepat saja tidak cukup

Kecepatan pengiriman sering dianggap tujuan akhir, padahal pelanggan menilai lebih dari itu: kepastian waktu, keamanan barang, kemudahan retur, dan keterlacakan. Di kota besar, pengiriman same-day sudah jadi ekspektasi. Di daerah, yang lebih penting sering kali adalah konsistensi: apakah paket datang sesuai janji, bukan sekadar “secepat mungkin”. Itulah mengapa investasi logistik dan penyelarasan dengan mitra last-mile menjadi krusial.

Penataan logistik ini bisa dibaca dari berbagai inisiatif platform dan mitra, misalnya pembahasan tentang penguatan infrastruktur logistik Lazada yang memperlihatkan bagaimana jaringan gudang, rute distribusi, dan teknologi pelacakan menjadi bagian dari strategi bersaing. Bagi Mira, dampaknya nyata: ia berani menawarkan paket “bebas retur” untuk kota tertentu karena SLA makin dapat diprediksi.

Daftar praktik yang makin menentukan daya saing penjual pada 2026

Di tengah perubahan perilaku belanja online dan akselerasi digitalisasi, banyak pedagang mulai merapikan cara kerja. Berikut praktik yang paling sering membedakan penjual yang bertahan dan yang tertinggal:

  • Manajemen stok berbasis data: menghitung reorder point, bukan mengandalkan firasat.
  • Standarisasi foto dan deskripsi: mengurangi komplain dan retur karena ekspektasi lebih akurat.
  • Pengemasan adaptif: proteksi sesuai karakter barang, bukan “asal bubble wrap”.
  • Pelayanan purnajual: respon cepat dan SOP penanganan komplain yang konsisten.
  • Penggunaan alat otomasi: template chat, sinkronisasi pesanan, hingga cetak resi massal.

Praktik-praktik tersebut tampak teknis, tetapi itulah jembatan antara “jualan sesekali” dan bisnis yang siap menghadapi proyeksi pasar raksasa. Setelah fondasi perilaku dan operasional terbentuk, pembahasan berikutnya menjadi lebih sensitif: bagaimana regulasi, pajak, dan pengawasan menentukan arah permainan.

Pergeseran kebiasaan ini juga mendorong ledakan topik di ruang publik—mulai dari live shopping sampai integrasi antarplatform. Untuk memperkaya perspektif, diskusi tren bisa ditelusuri melalui konten video tentang “tren e-commerce Indonesia 2026” dan “masa depan belanja online Asia Tenggara”.

Regulasi, pajak, dan tata kelola: fondasi kepercayaan untuk pasar e-commerce Indonesia

Jika era awal e-commerce identik dengan pertumbuhan agresif, maka fase berikutnya identik dengan penataan. Pada 2026, banyak perusahaan menyadari bahwa ekspansi tanpa kepatuhan justru menciptakan risiko: sengketa konsumen, kebocoran data, hingga sanksi terkait pajak. Dalam logika proyeksi jangka panjang menuju USD 813,8 miliar pada 2034, aspek ini bukan pelengkap, melainkan prasyarat. Pasar sebesar itu hanya mungkin jika ada trust—dan trust dibangun lewat aturan yang jelas serta penegakan yang konsisten.

Pajak e-commerce: dari “isu menakutkan” menjadi disiplin bisnis

Di tingkat pelaku usaha, pajak sering dianggap penghambat karena menambah beban administrasi. Namun dari perspektif pasar, pajak justru menciptakan level playing field. Brand yang patuh tidak terus-menerus kalah oleh penjual yang “lebih murah karena tidak tercatat”. Bagi Mira, penyesuaian pajak membuatnya harus merapikan pencatatan, memisahkan rekening bisnis, dan menata arus kas. Awalnya melelahkan, tetapi setelah berjalan, ia lebih mudah mengukur profitabilitas per produk.

Diskursus ini makin ramai karena banyak pelaku ingin kepastian. Salah satu rujukan yang sering dibaca pelaku usaha adalah pembahasan mengenai pajak e-commerce 2026 di Indonesia, yang menekankan pentingnya pemahaman skema dan kewajiban agar bisnis tidak tersandung di belakang hari. Di sisi SEO dan strategi konten, edukasi pajak bahkan mulai menjadi materi brand: “toko resmi” dan “faktur rapi” menjadi sinyal kepercayaan.

Pengawasan keuangan digital dan perlindungan konsumen

Belanja daring modern tidak bisa dipisahkan dari layanan keuangan digital: paylater, dompet elektronik, pembiayaan penjual, hingga asuransi pengiriman. Ini berarti risiko juga bergeser. Ketika konsumen bertransaksi, mereka bukan hanya menyerahkan uang, tetapi juga data identitas, alamat, hingga kebiasaan konsumsi. Karena itu, pengawasan dan tata kelola menjadi tema besar yang akan menentukan apakah pasar bisa tumbuh tanpa memicu krisis kepercayaan.

Di Indonesia, penguatan pengawasan sektor jasa keuangan dan ekosistem digital terus menjadi sorotan. Perspektif mengenai arah pengawasan dapat diikuti melalui pembahasan seperti pengawasan keuangan digital oleh OJK. Dalam praktik e-commerce, implikasinya terasa pada prosedur KYC, pengendalian penipuan, dan transparansi biaya. Bagi pedagang, efeknya bisa berupa persyaratan tambahan; bagi konsumen, efeknya adalah rasa aman yang memperbesar willingness to buy.

Standar operasional dan “biaya kepatuhan” yang menjadi investasi

Penataan tidak selalu murah. Ada biaya untuk audit keamanan, sertifikasi internal, integrasi sistem, dan pelatihan tim. Namun di pasar yang menuju skala raksasa, biaya kepatuhan adalah investasi jangka panjang. Perusahaan yang menunda biasanya membayar lebih mahal saat terjadi insiden: refund massal, litigasi, atau hilangnya reputasi.

Mira pernah mengalami momen kecil yang menggambarkan ini: sebuah batch produk rusak karena kurir menumpuk paket. Ia menanggung refund dan mengganti barang. Setelah itu ia mengubah SOP packing, menambah label fragility, dan memilih layanan pengiriman tertentu untuk kota dengan tingkat kerusakan tinggi. SOP terlihat sederhana, tetapi efeknya menurunkan biaya komplain dan menjaga rating. Insight akhirnya: dalam e-commerce modern, kecepatan ekspansi harus selalu diimbangi disiplin tata kelola—karena tanpa itu, proyeksi tinggal angka di atas kertas.

Persaingan platform, strategi lintas negara, dan konsolidasi: bagaimana peta pasar dibentuk

Pasar yang tumbuh besar selalu memancing strategi agresif: merger, akuisisi, perluasan kategori, dan penetrasi ke luar negeri. Di Asia Tenggara, kompetisi e-commerce bukan hanya soal diskon, tetapi juga kekuatan ekosistem: logistik, pembayaran, konten, dan kemitraan brand. Indonesia, sebagai pasar terbesar di kawasan, menjadi medan uji model bisnis yang kemudian diekspor ke negara lain—atau sebaliknya, model regional masuk dan beradaptasi di Indonesia.

Jejak ekspansi lintas negara bukan hal baru. Beberapa perusahaan Indonesia pernah membangun entitas di luar negeri untuk memperkuat bisnis travel dan jaringan. Strategi seperti itu menunjukkan bahwa skala pasar domestik mendorong pemain memikirkan diversifikasi geografis. Dalam konteks proyeksi 2034, ekspansi regional bisa menjadi cara mengurangi ketergantungan pada satu pasar sekaligus meningkatkan daya tawar terhadap mitra logistik dan pembayaran.

Kemitraan sebagai senjata: dari supply chain hingga brand trust

Di era marketplace matang, kemitraan menjadi pembeda yang paling sulit ditiru. Kemitraan bukan hanya bundling promo, melainkan sinkronisasi data permintaan, pengaturan inventori, dan SLA pengiriman. Ketika platform menggandeng brand besar, mereka mengamankan katalog dan memperbaiki persepsi kualitas. Saat platform menggandeng UMKM, mereka menciptakan keragaman produk dan narasi lokal yang dekat dengan konsumen.

Salah satu contoh pembacaan strategi kemitraan dapat dilihat melalui ulasan seperti Blibli memperluas kemitraan. Bagi Mira, kemitraan tidak harus selalu besar. Ia membuat versi mini: kerja sama dengan pemasok botol lokal untuk menjaga kualitas kemasan dan menekan risiko keterlambatan. Ia juga bernegosiasi dengan penyedia fulfillment untuk musim puncak, sehingga tidak kewalahan saat permintaan melonjak.

Integrasi social commerce dan implikasinya pada perilaku belanja online

Gelombang social commerce mengubah cara orang menemukan produk. Banyak konsumen tidak lagi memulai dari kolom pencarian, melainkan dari video pendek. Saat konten memicu keinginan, transaksi terjadi cepat—sering kali tanpa pertimbangan panjang. Ini menguntungkan produk impulse, tetapi menantang produk yang butuh edukasi. Karena itu, brand harus mengatur konten dan edukasi, bukan sekadar menampilkan harga.

Perkembangan integrasi social commerce juga berdampak pada dinamika platform. Diskusi mengenai integrasi kanal belanja dengan platform besar menjadi sorotan, misalnya melalui pembahasan integrasi TikTok Shop dan Tokopedia. Dampaknya ke pedagang jelas: arus traffic bisa berubah cepat, dan strategi konten menjadi sama pentingnya dengan strategi katalog.

Konsolidasi dan tuntutan efisiensi: mengapa proyeksi besar tidak berarti semua menang

Ketika pasar membesar, biaya untuk bersaing juga meningkat. Iklan makin mahal, kebutuhan gudang meningkat, dan konsumen makin sensitif terhadap pengalaman buruk. Konsolidasi terjadi dalam banyak bentuk: pemain kecil bergabung dalam jaringan reseller, brand menengah membangun pabrik untuk mengamankan pasokan, atau platform mengunci layanan tertentu agar retensi naik.

Dalam situasi ini, pelaku yang bertahan biasanya memiliki satu dari dua keunggulan: (1) efisiensi biaya yang ekstrem karena skala dan otomasi, atau (2) diferensiasi yang kuat sehingga tidak harus perang harga. Mira memilih jalur kedua—produk dengan klaim manfaat yang jelas, komunitas pelanggan, dan layanan purnajual yang rapi. Insight penutupnya: menuju 2034, pasar akan semakin besar, tetapi pemenang adalah mereka yang menguasai operasi dan narasi sekaligus—bukan sekadar ikut-ikutan tren.

Untuk melihat bagaimana pemain global membangun strategi lintas batas dan memanfaatkan jaringan regional, banyak analis membandingkannya dengan pola ekspansi raksasa Asia. Topik “cross-border e-commerce Asia” dan “strategi Alibaba di penjualan lintas negara” sering menjadi bahan diskusi di berbagai kanal video.

Infrastruktur pembayaran, logistik, dan SDM: prasyarat agar proyeksi 2034 menjadi kenyataan

Angka USD 813,8 miliar pada 2034 tidak akan tercapai hanya dengan aplikasi yang menarik. Ia membutuhkan infrastruktur nyata: pembayaran yang mulus, logistik yang andal, jaringan yang kuat, serta SDM yang memahami operasi digital. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ketika pembayaran dan pengiriman membaik, kategori transaksi ikut naik kelas. Konsumen yang tadinya hanya membeli barang murah mulai percaya untuk membeli barang dengan tiket lebih tinggi.

Pembayaran: dari QR lintas negara hingga keamanan transaksi

Salah satu tonggak penting dalam beberapa tahun terakhir adalah normalisasi pembayaran digital berbasis QR. Di level ritel kecil—warteg, minimarket, kios—pembayaran QR mengubah kebiasaan. Dalam konteks lintas negara, kerja sama pembayaran QR juga membuka peluang pariwisata dan transaksi ritel lintas kawasan. Tetapi tantangan yang muncul selalu sama: keamanan data, mitigasi penipuan, dan keandalan sistem saat trafik melonjak.

Bagi pelaku pasar e-commerce, implikasinya langsung. Semakin mudah pembayaran, semakin rendah hambatan checkout. Namun semakin mudah juga peluang fraud bila edukasi dan sistem pengamanan tidak kuat. Di sinilah investasi keamanan menjadi bagian dari strategi pertumbuhan, bukan semata “biaya IT”.

Logistik: rantai pasok yang tahan guncangan

Logistik e-commerce di Indonesia menghadapi tantangan geografis: pulau yang banyak, jarak jauh, dan ketimpangan infrastruktur antarwilayah. Karena itu, strategi logistik bukan sekadar memperbanyak kurir, melainkan mengatur node gudang, rute, dan buffer stok yang masuk akal. Pada saat permintaan puncak seperti akhir tahun, pemain yang menang bukan yang paling banyak diskon, melainkan yang mampu mengirim tepat waktu dengan tingkat pembatalan rendah.

Mira mempelajari hal ini dengan cara yang praktis: ia membagi stok ke dua titik gudang kecil untuk menurunkan waktu kirim. Ia juga membuat aturan “cut-off time” agar tim tidak kewalahan. Hasilnya bukan hanya pengiriman lebih cepat, tetapi juga penghematan biaya karena retur menurun.

SDM dan produktivitas: tantangan sunyi di balik digitalisasi

Sering kali orang membicarakan teknologi seolah-olah ia otomatis meningkatkan produktivitas. Padahal, alat canggih tanpa tim yang terampil hanya menambah kebingungan. Dalam e-commerce, kebutuhan SDM mencakup data analyst, performance marketer, customer service yang paham eskalasi, hingga operator gudang yang disiplin terhadap SOP.

Isu produktivitas ini semakin relevan saat perusahaan mulai memanfaatkan alat otomasi dan kecerdasan buatan untuk menyusun materi iklan, menjawab pertanyaan pelanggan, atau memprediksi permintaan. Diskusi tentang produktivitas global yang dipicu alat generatif juga sering dikaitkan dengan tren ini, misalnya melalui pembahasan seperti ChatGPT dan produktivitas global. Untuk konteks Indonesia, pelajarannya sederhana: otomasi bukan pengganti strategi, melainkan penguat eksekusi.

Untuk mengubah proyeksi menjadi realitas, banyak pelaku perlu mengambil keputusan yang tidak populer tetapi penting: menata data, mengurangi ketergantungan pada satu kanal, menabung untuk investasi sistem, dan meningkatkan literasi keuangan bisnis. Mira menyebutnya “kerja sunyi”—tidak terlihat di dashboard kampanye, tetapi menentukan apakah bisnis tahan banting.

Di titik ini, narasi kembali ke inti: pasar e-commerce Indonesia bisa membesar menuju USD 813,8 miliar pada 2034 karena gabungan faktor—perilaku belanja online, digitalisasi, dan kemajuan teknologi—tetapi hanya akan benar-benar terjadi jika infrastruktur, tata kelola, dan SDM bergerak seirama. Insight penutupnya: skala besar selalu menuntut kedewasaan sistem, dan kedewasaan itu dibangun dari keputusan operasional harian yang konsisten.

Berita terbaru

Berita terbaru

selandia baru melonggarkan kebijakan visa untuk memudahkan masuknya pekerja asing terampil, mendukung pertumbuhan ekonomi dan inovasi.
Selandia Baru melonggarkan kebijakan visa untuk menarik pekerja asing terampil
zoom memperkenalkan fitur ai terbaru yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas rapat virtual, memudahkan kolaborasi, dan mengoptimalkan pengalaman pengguna.
Zoom memperkenalkan fitur AI baru untuk meningkatkan produktivitas rapat virtual
dhl meningkatkan kapasitas logistik di asia tenggara guna mendukung pertumbuhan pesat e-commerce regional, memastikan pengiriman cepat dan efisien.
DHL meningkatkan kapasitas logistik Asia Tenggara untuk mendukung pertumbuhan e-commerce regional
anggaran pembangunan infrastruktur indonesia meningkat signifikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan memperkuat konektivitas di seluruh nusantara.
Anggaran pembangunan infrastruktur Indonesia meningkat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
kementerian energi memastikan pasokan bahan bakar tetap stabil di wilayah jawa dan bali untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat dan industri.
Kementerian Energi pastikan stabilitas pasokan bahan bakar di wilayah Jawa dan Bali
pemerintah india dan uni eropa terus melanjutkan negosiasi untuk mencapai perjanjian perdagangan bebas yang akan memperkuat hubungan ekonomi dan membuka peluang bisnis antara kedua wilayah.
Pemerintah India dan Uni Eropa melanjutkan negosiasi perjanjian perdagangan bebas